dinasruwet_kotasemarang "Truk Sampah: Pahlawan Bau yang Dibiarkan Sekarat"
Di kota yang bangga dengan slogan bersih dan tertib, ada satu pemandangan yang selalu luput dari pidato resmi: truk sampah yang megap-megap seperti napas terakhir birokrasi.
Di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), katanya semua sudah teranggarkan. Katanya ada pos khusus untuk perbaikan kontainer dan armada.
Katanya ada biaya perawatan.
Katanya.
Tapi di lapangan?
Ban gundul bukan urusan kantor.
Mesin rusak bukan tanggung jawab dinas.
Kontainer bolong bukan prioritas anggaran.
Yang ada, sopir jadi montir.
Sopir jadi bendahara.
Sopir jadi korban.
Ganti ban? Uang sendiri.
Servis mesin? Patungan sendiri.
Kerusakan parah? Tanggung sendiri.
Negara hadir... di papan nama.
Yang hadir di bengkel? Sopir dengan dompet tipis dan keringat asin.
Lalu lahirlah praktik yang semua orang tahu tapi pura-pura tidak tahu: "kencingan solar."
Bukan karena ingin kaya.
Bukan karena ingin melawan hukum.
Tapi karena mesin butuh hidup, sementara anggaran cuma hidup di atas kertas.
Bukan sistem.
Ironisnya, saat audit datang, yang berdiri paling depan sebagai tersangka moral adalah sopir. Bukan pejabat yang sibuk rapat tentang "optimalisasi pengelolaan sampah."
Bukan kebijakan.
Jam kerja?
Bak warisan kolonial.
Tak kenal tanggal merah.
Tak kenal hari raya.
Kalau mau libur? Silakan.
Bayar pengganti sendiri.
Sistem yang canggih:
Tanggung jawab ke bawah.
Kredit ke atas.
Sementara kepala bidang pengelolaan sampah masih mencari "kajian mendalam."
Mungkin masih menyusun roadmap.
Mungkin masih menunggu rapat koordinasi jilid ke-27.MIL
Sementara kepala bidang pengelolaan sampah masih mencari "kajian mendalam."
Mungkin masih menyusun roadmap.
Mungkin masih menunggu rapat koordinasi jilid ke-27.
Dan seperti biasa, di akhir cerita, kambing hitam sudah disiapkan.
Bukan pejabat.
Bukan pembuat kebijakan.
Tapi pekerja paling bawah - yang tiap hari mencium bau kota agar warga bisa menghirup udara lebih lega.
Beginilah kisah di balik kontainer penyok dan truk
yang batuk-batuk.
Bukan soal teknis.
Ini soal keberanian mengakui bahwa yang rusak bukan cuma armada.
Yang rusak... sistemnya.
Minta tolong kepada ibu Walikota Semarang, agar memperhatikan anggaran maintenance Truk dan kontainer..