Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi

Detail Aduan

Lihat detail lengkap aduan LGMB78811137

Rincian Aduan

LGMB78811137

Progress Public

Lampiran

KABUPATEN BATANG
10 Aug 2026
0 ditandai
Kepada Yth. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah di tempat Perihal: Permohonan Solusi Lalu Lintas dan Peninjauan Penambahan Kelas SMK Muhammadiyah Bawang – Dua Sekolah Tidak Boleh Berbagi Satu Jalur Kecil Dengan hormat, Saya menulis surat ini dengan perasaan sangat prihatin dan resah. Setiap hari, saya dan masyarakat lainnya harus terjebak kemacetan parah di depan SMAN 1 Bawang dan jalur lingkar SMA, yang disebabkan oleh bercampurnya kendaraan siswa SMK Muhammadiyah Bawang (±1.200 siswa / 700 kendaraan) dan SMA Negeri 1 Bawang (±400 kendaraan) di jalur yang sangat kecil dan sempit. --- Kondisi "One Way" di Jalur Lingkar Masalah utamanya adalah dua sekolah besar ini (SMK dan SMA) sama-sama menggunakan Jalur Lingkar SMA (Jlamprang) sebagai akses utama. Dengan volume kendaraan mencapai lebih dari 1.100 unit setiap pagi, jalur sempit tersebut berubah menjadi seperti "One Way" — arus lalu lintas hanya berjalan satu arah karena tidak ada ruang untuk kendaraan dari arah berlawanan. Kasihan masyarakat lain yang juga harus menggunakan jalur tersebut untuk bekerja, mengantar anak, atau keperluan lain. Mereka terjebak macet setiap hari hanya karena dua sekolah menggunakan jalur yang sama tanpa ada solusi yang memadai. --- Fakta di Lapangan 1. Pemuda-pemudi desa setempat pernah mengeluhkan parkir SMK yang berada di belakang SMK kepada Pak Lurah, namun keluhan tersebut tidak digubris dan tidak ada tindak lanjut. Ini menunjukkan bahwa masalah sudah berlangsung lama dan masyarakat sudah berupaya mencari solusi melalui jalur desa, tetapi tidak mendapat respons. 2. Jumlah kendaraan siswa SMK ±700 unit dan SMA ±400 unit, total sekitar 1.100 kendaraan bermotor yang melintas setiap hari di jalur yang sama, tetapi sebagian besar (700) berasal dari SMK. 3. Jalur tersebut sangat kecil dan tidak dirancang untuk volume kendaraan sebesar itu. 4. SMK Muhammadiyah Bawang saat ini sedang membangun ruang kelas baru, yang berarti jumlah siswa akan semakin bertambah dan kemacetan akan semakin parah. 5. Satpam SMA dan SMK sudah kewalahan mengatur lalu lintas. Mereka bahkan sering menjadi sasaran kemarahan masyarakat yang terjebak macet setiap hari. Hal ini sangat tidak adil karena satpam hanya menjalankan tugas dengan keterbatasan wewenang dan personel, sementara akar masalahnya adalah ketidakmampuan sistem menampung volume kendaraan siswa SMK. 6. Knalpot brong — selain macet, para siswa SMK juga banyak yang menggunakan knalpot brong sehingga menimbulkan kebisingan yang sangat mengganggu kenyamanan warga dan lingkungan sekitar. --- Mengapa Keluhan Ini Lebih Tertuju pada SMK? Saya tidak serta-merta menyalahkan SMK tanpa alasan. Berikut adalah fakta objektif yang mendasari keluhan saya: 1. Kuantitas siswa SMK sangat besar (±1.200 siswa) dibandingkan SMA (±700 siswa). Ini berarti volume kendaraan SMK hampir dua kali lipat SMA, sehingga kontribusi terhadap kemacetan jauh lebih dominan. 2. Parkiran SMK berada di belakang sekolah, sehingga siswa SMK harus masuk melalui Jalan Lingkar SMA (Jlamprang) untuk menuju parkiran belakang. Jalur ini tidak dirancang untuk menampung 700 kendaraan setiap hari. 3. Jalan Lingkar SMA adalah jalan kabupaten yang sempit, bukan jalan provinsi. Jalur ini hanya memiliki kapasitas terbatas dan tidak layak untuk dilalui oleh 700 kendaraan siswa SMK setiap hari. 4. SMA juga melewati jalur lingkar, tetapi hanya sekitar 700 meter untuk akses ke parkiran luar/dalam sekolah. Jarak tempuh yang sangat pendek ini tidak sebanding dengan volume kendaraan SMK yang melintas jauh lebih panjang dan dalam jumlah besar. 5. Parkiran SMA berada di dalam dan di luar gerbang karena keterbatasan kapasitas lahan. Namun, akses parkir SMA tetap berada di sisi jalan provinsi, sehingga siswa SMA tidak perlu masuk ke jalur lingkar secara penuh seperti SMK. Dengan demikian, kemacetan di jalur lingkar dan gerbang samping SMA sebagian besar disebabkan oleh aktivitas siswa SMK, bukan SMA. SMA hanya terkena dampaknya karena lokasi yang bersinggungan. --- Solusi yang Diharapkan 1. Dorong SMK Muhammadiyah Bawang untuk segera membuat jalur tembusan sendiri dari depan sekolah (Jalan Provinsi) menuju belakang sekolah, karena lahan sudah tersedia dan dana juga banyak. Sebagai sekolah swasta yang mapan, seharusnya SMK Muhammadiyah Bawang mampu menyediakan akses khusus yang tidak mengganggu jalan umum dan masyarakat sekitar. 2. Kaji ulang Andalalin SMK Muhammadiyah Bawang, karena data di lapangan menunjukkan bahwa analisis dampak lalu lintas yang ada tidak sesuai dengan kenyataan. 3. Jangan izinkan penambahan kelas baru di SMK Muhammadiyah Bawang sebelum solusi lalu lintas (jalur tembusan) terealisasi, karena penambahan siswa hanya akan memperparah kemacetan. 4. Tertibkan penggunaan knalpot brong oleh siswa SMK, baik melalui kerja sama dengan kepolisian maupun pembinaan dari pihak sekolah. 5. Lindungi satpam dari kemarahan masyarakat dengan memberikan solusi nyata, bukan membebani mereka yang tidak memiliki kewenangan untuk mengatasi masalah struktural ini. --- Penutup Saya tidak ingin terus-terusan mengeluh, tetapi kondisi ini sudah sangat tidak manusiawi. Setiap pagi saya dan masyarakat lain harus rela terjebak macet dan mendengar suara brong yang memekakkan telinga. Sebagai sekolah swasta yang memiliki lahan dan dana, SMK Muhammadiyah Bawang wajib menyediakan solusi sendiri, bukan membebani masyarakat dan merusak kenyamanan publik. Saya mohon, jangan biarkan masyarakat terus menjadi korban. Cukup sudah. Atas perhatian dan tindak lanjutnya, saya ucapkan terima kasih.

Disposisi

Senin, 10 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Admin Gubernuran

Laporan telah diteruskan ke Kabupaten Batang

Verifikasi

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:18 WIB

Kabupaten Batang

terimakasih atas laporannya

Progress

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:19 WIB

Kabupaten Batang

terkait kemacetak lalu lintas kami koordinasian dengan Dsihub