Kepada Yth.
Admin Gubernuran Jawa Tengah
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
di tempat
Perihal:
Kontra-Argumen atas Laporan Resmi SMK Muhammadiyah Bawang dan Permohonan Tindak Lanjut atas Aduan Nomor LGMB48224432 – Kemacetan, Overload, Pelanggaran Arah, dan Fakta Volume Kendaraan yang Belum Maksimal di Jalan Lingkar SMA, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang
Dengan hormat,
Saya menyampaikan kontra-argumen atas Laporan Resmi Penanganan dan Pengaturan Lalu Lintas SMK Muhammadiyah Bawang tertanggal 14 September 2026, yang ditandatangani oleh Kepala SMK Muhammadiyah Bawang, Bapak Imam Pamungkas, S.Pd., M.Si. Laporan tersebut merupakan tindak lanjut dari aduan saya melalui Portal Gubernur Jawa Tengah pada Kamis, 3 September 2026, dengan nomor aduan LGMB48224432.
---
Sumber Data dan Informasi
Data dalam laporan ini saya peroleh dari sumber yang dapat diverifikasi:
Pertama, jam masuk SMK pukul 07.05 WIB — diketahui dari siswa SMK yang pernah saya edukasi secara langsung mengenai bahaya melawan arah di jalan.
Kedua, jam masuk SMA pukul 07.00 WIB tepat — diketahui dari keterangan siswa dan wali murid SMA Negeri 1 Bawang.
Ketiga, jam masuk SD pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 12.00 WIB — diketahui dari keterangan wali murid SD Jlamprang.
Keempat, jam pulang SMK sehabis Jumatan (sekitar 13.00–13.30 WIB) — diketahui dari pengamatan lapangan dan keterangan siswa.
Kelima, jam pulang SMA pukul 14.00 WIB — diketahui dari keterangan siswa dan wali murid.
---
Klarifikasi dan Posisi Saya
Pertama, aduan ini saya buat untuk menguntungkan semua pihak — bukan untuk merugikan, menyerang, atau menjatuhkan pihak mana pun.
Kedua, Dishub dan Polisi pada dasarnya bergerak atas dasar laporan dan koordinasi saya.
Ketiga, traffic cone di perempatan SMA adalah hasil kerja sama dan evaluasi saya bersama pihak SMA Negeri 1 Bawang.
Keempat, pemasangan MMT di sebelah SMA juga merupakan hasil kerja sama saya dengan pihak SMA Negeri 1 Bawang.
Kelima, saya tidak menyangka bahwa arus kendaraan SMK Muhammadiyah Bawang ternyata sangat masif.
Keenam, saya mengakui bahwa memang betul di daerah Bawang kesadaran penggunaan helm masih rendah.
Namun, yang menjadi dasar dalam laporan ini adalah penyebab dan solusi yang saya sampaikan sebagai pelapor.
---
Fakta Kritis: Volume Kendaraan Saat Ini Belum Maksimal
Alhamdulillah, saat ini sebagian siswa SMK dan SMA masih menjalani pembelajaran daring karena program renovasi pemerintah.
Selain itu, sebagian besar siswa kelas 12 SMK sedang menjalani PKL/magang di luar sekolah.
Artinya, volume kendaraan yang melintas saat ini belum maksimal — bahkan jauh di bawah kondisi normal.
Jika seluruh siswa SMK dan SMA hadir fisik secara bersamaan, dan siswa kelas 12 SMK tidak lagi PKL, maka lonjakan kendaraan akan berkali-kali lipat lebih besar.
Kemacetan yang sudah parah ini akan menjadi bom waktu.
Ini adalah kesempatan emas bagi SMK Muhammadiyah Bawang untuk segera membuat lajur sendiri sebelum seluruh siswa kembali aktif.
---
Bukti Empiris yang Tidak Terbantahkan
Pada suatu hari, SMK Muhammadiyah Bawang diliburkan karena Lapangan Desa Jlamprang digunakan untuk acara dangdut.
Pada hari itu, arus lalu lintas di Jalan Lingkar SMA langsung lancar
— padahal SMA Negeri 1 Bawang tetap masuk seperti biasa, warga tetap bekerja, dan SDN Jlamprang tetap beraktivitas.
Satu-satunya variabel yang hilang adalah kendaraan siswa SMK.
Ini bukti tak terbantahkan bahwa SMK adalah penyebab utama kemacetan.
---
Fakta Kritis: Alasan Pengantar SD Jlamprang Lewat Lingkar SMA
Pengantar SD Jlamprang memilih melewati Jalan Lingkar SMA — bukan jalur belakang SMK
— karena:
Pertama, mereka takut melewati jalur belakang SMK.
Kedua, siswa SMK di jalur belakang suka ugal-ugalan dan membahayakan.
Ketiga, banyak masyarakat yang membagikan keluh kesahnya kepada saya mengenai perilaku siswa SMK di jalur belakang.
Jadi, pengantar SD bukan memilih lewat Lingkar SMA karena ingin, tetapi karena terpaksa akibat perilaku siswa SMK sendiri.
---
Fakta Kritis: Depan SMA adalah Titik Blindspot
Depan SMA Negeri 1 Bawang adalah titik blindspot (titik buta) bagi pengendara, sedangkan jalur sebelah SD Jlamprang bukan blindspot.
Konsekuensinya: siswa SMK yang melintas di depan SMA masuk ke area blindspot yang sangat berbahaya.
Siswa SMA yang menyeberang juga terpapar risiko yang sama. Sebaliknya, jalur sebelah SD Jlamprang bukan blindspot — sehingga secara teknis jauh lebih aman.
Kesimpulan: Dalih "membahayakan anak SD" tidak berdasar secara teknis. Justru jalur depan SMA yang blindspot jauh lebih berbahaya.
---
Pengakuan SMK dalam Laporan Resmi Mereka Sendiri
SMK mengakui menggunakan tiga jalur: Jalur Timur (sebelah SDN 1 Jlamprang), Jalur depan sekolah, dan Jalur Barat (depan SMA Negeri 1 Bawang).
Ini pengakuan resmi bahwa kendaraan siswa SMK memang melintas di depan SMA.
SMK juga mengakui bahwa sejak 2020, parkiran dipindah ke belakang — sehingga semua siswa SMK harus melewati jalur lingkar.
Dan SMK merencanakan memindahkan parkiran kembali ke depan, padahal mereka sendiri mengakui itu akan menimbulkan kepadatan di jalan provinsi.
---
Bukti Visual
Saya lampirkan peta dari laporan resmi SMK dengan anotasi dari saya sebagai pelapor
— lingkaran dan keterangan "Titik Kemacetan dan dimana banyak Siswa suka melawan arah" di Jalur Barat (titik 1), yang juga merupakan blindspot.
Foto lapangan juga menunjukkan macet, semerawut, overload, dan bonceng 3 di perempatan SMA.
---
Perilaku Melawan Arah dan Bonceng 3
Siswa SMK sering melawan arah dan bonceng 3 di depan SMA —
di jalan provinsi yang ramai dan merupakan blindspot. Ini sangat membahayakan dan menunjukkan pembinaan kedisiplinan berlalu lintas di SMK masih kurang.
---
Pertanyaan Kritis
Jika SMK sudah tahu jalan provinsi akan macet — seperti yang mereka akui sendiri
— kenapa SMK tetap menggabungkan diri ke jalur yang sama dengan SMA?
Apakah karena penyebrangan SMA sudah proper, sehingga SMK merasa bisa menumpang?
Fasilitas yang dibangun untuk keselamatan siswa SMA seharusnya tidak ditumpangi pihak lain yang bervolume kendaraan jauh lebih besar — terlebih di blindspot yang sangat berbahaya.
---
Jadwal yang Memperparah Kemacetan
SMA masuk pukul 07.00 WIB, SMK masuk pukul 07.05 WIB — hanya selisih 5 menit. Pada hari Jumat, SMK pulang sehabis Jumatan (13.00–13.30 WIB), sedangkan SMA masih belajar hingga 14.00 WIB. Kebisingan SMK mengganggu konsentrasi belajar siswa SMA.
---
SMK Tidak Memiliki Solusi Permanen
SMK hanya mengandalkan tiga jalur yang semuanya masih menggunakan jalan umum.
Mereka tidak membuat jalur tembusan sendiri dari Jalan Provinsi menuju parkiran belakang — padahal ini diwajibkan Andalalin.
---
Dasar Hukum
Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 75 Tahun 2015 tentang Andalalin.
Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Peraturan Daerah Kab. Batang tentang Ketertiban Umum dan Pengelolaan Lalu Lintas.
---
Harapan Saya
Saya memohon kepada Admin Gubernuran Jawa Tengah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah untuk:
1. Tidak menerima dalih yang mengalihkan tanggung jawab kepada SMA, warga, atau SDN Jlamprang.
2. Mewajibkan SMK Muhammadiyah Bawang membuat lajur sendiri — jalur tembusan dari Jalan Provinsi menuju parkiran belakang — sesuai Andalalin. Ini solusi permanen dan utama.
3. Memanfaatkan momentum saat ini — ketika sebagian siswa masih daring dan kelas 12 SMK masih PKL — untuk segera merealisasikan lajur sendiri sebelum seluruh siswa kembali aktif.
4. Mendukung rencana pemindahan parkiran ke depan dengan catatan: harus ada manajemen lalu lintas matang, rekayasa lalu lintas, kajian Andalalin ulang (termasuk blindspot), dan koordinasi dengan Dishub, Polisi, serta Pemerintah Desa.
5. Mengenai jalur lingkar Jlamprang — pengantar SD memilih jalur ini bukan karena ingin, tetapi karena takut melewati jalur belakang SMK yang siswa-siswinya ugal-ugalan. Jalur ini juga bukan blindspot, sehingga lebih aman.
6. Melarang atau membatasi siswa SMK melintas di Jalan Lingkar SMA — terutama di blindspot depan SMA.
7. Melakukan survei independen pada jam 06.50–07.10 WIB.
8. Memberikan sanksi tegas jika SMK terus mengabaikan kewajibannya.
9. Harapan utama saya tetap: SMK Muhammadiyah Bawang membuat lajur sendiri.
---
Penutup
Laporan resmi SMK justru memperkuat aduan saya. Mereka mengakui menggunakan jalur depan SMA, parkiran di belakang, berencana memindahkan parkiran ke depan (yang akan menimbulkan kepadatan di jalan provinsi), dan menggunakan jalur SD Jlamprang.
Fakta teknis membantah dalih "membahayakan anak SD": jalur depan SMA adalah blindspot yang sangat berbahaya, sedangkan jalur SD Jlamprang bukan blindspot. Pengantar SD memilih lewat Lingkar SMA karena takut melewati jalur belakang SMK yang siswa-siswinya ugal-ugalan.
Dan yang paling penting: saat ini sebagian siswa SMK dan SMA masih daring, serta kelas 12 SMK masih PKL. Jika seluruh siswa hadir fisik, kemacetan akan jauh lebih parah. Ini adalah bom waktu — dan sekaligus momentum emas untuk segera membuat lajur sendiri.
Saya menyampaikan kontra-argumen ini dengan niat baik, bukan untuk menjatuhkan pihak SMK, melainkan untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak.
Saya sudah berupaya berkontribusi — mulai dari koordinasi dengan Dishub dan Polisi, pemasangan traffic cone di perempatan SMA, hingga pemasangan MMT di sebelah SMA.
Atas perhatian dan tindak lanjutnya, saya ucapkan terima kasih.
Detail Aduan
Lihat detail lengkap aduan LGMB45309034
Disposisi
Minggu, 27 September 2026 - 10:09 WIBAdmin Gubernuran
Laporan telah diteruskan ke DINAS PENDIDIKAN